Dewi Seks, Mitos Pembuat Pelacuran Anak

ANAK-ANAK di Indonesia, ternyata menjadi makanan empuk “pemangsa-pemangsa” anak. Mereka diperjualbelikan atau malah dijadikan pelacur anak-anak. Mengapa begitu banyak anak – khususnya anak perempuan yang terlilit masalah ini?. Apa benar masalah utamanya adalah karena kemiskinan dan budaya yang salah? Bagaimana dengan sistem hukum dan peran negara yang ternyata tak pernah mampu melindungi mereka?

Perdagangan anak dan perempuan di Indonesia kini mencapai taraf yang berbahaya. Selain karena belum adanya undang-undang yang memberi sanksi tegas bagi para pelaku licinnya, sindikat perdagangan dan korupnya lembaga penegakkan hukum di Indonesia membuat kasus-kasus perdagangan anak dan perempuan seringkali berakhir di catatan kepolisian atau menjadi data statistik semata. Tak heran jika Komisi Hak Asasi Manusia PBB memasukkan Indonesia dalam daftar hitam “negara yang tidak melakukan tindakan apa-apa untuk menghapuskan perdagangan manusia”.

Perdagangan anak dan perempuan bertujuan memenuhi kebutuhan seks kini terjadi tidak saja di kota-kota besar tetapi juga daerah pinggiran. Organisasi Perburuhan Internasional ILO melaporkan bahwa faktor pendorongnya bersifat beragam mulai dari kemiskinan adanya mitos atau kepercayaan tradisional hingga keinginan mengikuti kehidupan urban yang serba konsumtif.

Seorang wartawan senior mencatat betapa anak-anak yang tinggal di daerah-daerah yang masih memuja tradisi Dewi seks kerap dieksploitasi demi kepentingan tersebut.

“Ada tradisi Dewi Seks – yang terjadi bukan hanya di Indonesia tetapi juga negara Asia lainnya. Di beberapa negara Asia Selatan tradisi Dewi Seks ini berkait dengan tradisi keagamaan. Jadi dilandasi kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak kecil akan membuatnya awet muda kuat dll. Ini jelas realitas eksploitasi seksual. Yang terjadi dalam tradisi Dewi Seks – baik yang melibatkan tradisi keagamaan atau tidak – tidak hanya merupakan subordinasi atas kekuasaan. Kalau feminisme menyatakan bahwa ini terkait dengan power relation – padahal tidak!. Ini merupakan tradisi manipulatif yang terkait dengan kemiskinan dan marjinalisasi atas satu kelompok”.

Jika di negara belum berkembang tradisi dewi seks atau mitos semacam ini menjadi salah satu faktor munculnya perdagangan anak dan perempuan lain lagi masalah di negara berkembang dan maju. Di kedua tipe negara ini – sistem ekonomi neo liberal dengan unsur pasar bebas yang serba kompetitif memaksa orang kreatif menciptakan barang dan jasa yang dapat dikomersilkan. Disinilah kelompok anak dan perempuan yang tersubordinasi tadi lagi-lagi dieksploitasi.

“Juga unsur sistem ekonomi neo-liberal yang tengah kita jalani – seperti pasar bebas dll. Ini memaksa orang kreatif menciptakan barang dan jasa yang dapat dikomersilkan sehingga anak dari kelompok yang paling miskin sekalipun tetap dapat dianggap memiliki sesuatu yang bisa dijual – yaitu kemudaan tubuh mereka. Ada permintaan – ada penawaran. DI dunia dimana komersialisasi ada maka apapun bisa dilakukan. Dan tubuh muda yang segar adalah komoditi yang dapat diperjualbelikan. Ini dari sisi orang yang jual jasa anak kecil”.

Gabungan faktor tadi membuat anak dan perempuan yang selama ini sudah tersubordinasi menjadi semakin mudah dieksploitasi. Terlebih karena perangkat hukum di Indonesia sendiri sangat lemah. Pasal 297 KUHP yang mengatur soal perdagangan anak hanya memberi sanksi maksimal 4 tahun penjara bagi pelaku. Sementara untuk soal persetubuhan dengan anak di bawah umur di luar hubungan perkawinan – pasal 287 KUHP hanya mengatur sanksi maksimal 9 tahun penjara dan jika berada di dalam perkawinan dan menimbulkan luka maka hanya dikenai sanksi 4 tahun penjara.

Sanksi-sanksi hukum di Indonesia ini jauh lebih ringan dibandingkan negara lain. Di negara seliberal Amerika Serikat misalnya kejahatan ini digolongkan sebagai kejahatan besar dengan hukuman minimal 10 tahun penjara. Beberapa waktu lalu Amerika Serikat dan Inggris bahkan melakukan penangkapan besar-besaran atas 1.200 pengunjung situs internet pornografi anak2 dan mengganjar dua pengelolanya – Thomas dan Janice Reedy. Thomas dijatuhi hukuman 1.335 tahun untuk 89 tuntutan sementara Janice dikenai 14 tahun penjara karena dianggap membantu tindak kejahatan. Filipina bahkan memberlakukan hukuman mati bagi para pelaku perkosaan atas anak

 

sumber : rileks.com

 

Provided by
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com, 

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Foundation and Editor in Chief

Dr Widodo Judarwanto

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved.

Konferensi Pemberantasan Pelacuran Anak

Di Asia Tenggara sekitar 70.000 anak terlibat di pelacuran yang tumbuh subur didukung industri wisata. Berbagai wakil LSM dan pemerintah dari negara-negara Asia dan Eropa menggelar konferensi di Bali membahas masalah yang sangat serius ini. Bisakah pelacuran anak diberantas selama penegakan hukum di banyak negara Asia termasuk Indonesia, lemah? Laporan Bari Muchtar dan Fedia Andina

Tujuan konferensi untuk merumuskan perlakuan hukum terhadap pelaku seks anak-anak di sektor wisata. Konferensi digelar di Bali karena Indonesia dinilai cukup parah dalam hal pelacuran anak-anak. Dua puluh persen dari sekitar 70.000 melibatkan anak-anak Indonesia.

 Oleh karena itu Bali dipakai sebagai tempat konperensi karena Bali juga banyak ditemukan anak-anak di wilayah pariwisata mengalami korban kekerasan seksual, baik itu pedofili maupun kekerasan-kekerasan lain yang menggunakan torism di wilayah-wilayah Bali dan sekitarnya.

Pedofilia harus dihukum 
Terre des Homes, sebuah LSM Belanda, adalah salah satu organisasi yang aktif ikut serta dalam konferensi. Menurut direktur LSM Belanda ini, Frans van Dijk, jumlah 70.000 itu merupakan dugaan. Banyak anak-anak yang tidak melapor ke pihak yang berwajib, katanya.

Frans van Dijk: Misalnya banyak anak-anak tidak mau melapor ke polisi. Dan kalau tidak melapor, maka polisi bilang, tidak ada perkara. Sering terjadi, pelaku pedofilia menyogok anak-anak agar bungkam. Dan ada juga yang tidak mau menjadi sorotan media, kalau jajdi perkara pengadilan.

Diharapkan diambil sejmlah langkah kongkret, antara lain adalah menutup jaringan pedofilia internasional. Untuk itu perlu kerjasama, bukan hanya antar NGO saja tapi juga antara NGO dan pemerintah. Demikian Sirait.

Sirait : Penegakan hukum adalah langkah awal. Lalu kemudian kerjasama antar NGO dan pemerintah supaya itu perang bersama-sama untuk menyelamatkan anak-anak dari kejahatan seks komersial di wilayah pariwisata. Langkah berikutnya adalah membuat satu informasi yang jelas bagi masyarakat, khususnya di Bali atau di daerah-daerah wisata lain termasuk di daerah-daerah kantong-kantong kemiskinan yang sangat rentan merekrut anak-anak menjadi pekerja seks untuk wilayah-wilayah parisiwsata

Yang penting pula, tambah Sirait, adalah menjalin kerjasama dengan jaringan interpol, misalnya dengan polisi Prancis, yang juga hadir dalam konferensi ini.

Frans van Dijk juga mengimbau penegakan hukum di Eropa. Misalnya turis Belanda yang melakukan pedofilia akan ditindak dan dihukum kalau pulang ke Belanda. Banyak orang mengatakan seorang pedofilia Eropa, dapat dijatuhi hukuman 15 tahun penjara di Asia, tapi kalau pulang ke negara asal, orang tersebut akan dibebaskan dari hukuman.

Frans van Dijk: Orang di Asia mengatakan, pedofilia di Eropa tidak mendapat hukuman yang setimpal. Di Asia mereka bisa dijatuhi hukuman 10-15 tahun penjara. Sementara di Eropa hukuman jauh lebih ringan. Sangatlah penting, pelaku kejahatan ditindak secara hukum.

Berantas pelacuran anak 
Selain itu salah satu penyebab banyaknya anak-anak terlibat pelacuran adalah kemiskinan. Masalah ini harus ditangani di tingkat pemerintah. Terre des Hommes misalnya membantu dari segi keuangan. Selain itu orang tua juga dibantu membayar uang sekolah, sehingga anak-anak mereka tidak putus sekolah.

Frans van Dijk : Satu hal yang kami lakukan untuk anak-anak yang terpaksa drop out karena tidak ada biaya, karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah, mereka mendapat tunjangan finansial agar dapat kembali ke bangku sekolah. karena anak-anak yang tidak bersekolah ini kemudian berkeliaran di jalanan, dan mereka kemungkinan besar akan menjadi mangsa pelacuran anak.

Terre des Home juga mau memberikan bimbingan kepada para korban supaya berani mengadu ke polisi. Pemberian informasi tentang pedofilia dan pelacuran anak-anak sangat penting untuk menangani kasus ini.

Tindakan lain yang bisa diambil adalah bekerjasama dengan biro-biro perjalanan. Melalui mereka, diupayakan agar hotel-hotel tidak mengizinkan para tamunya membawa anak-anak ke kamar.

Walhasil banyak langkah-langkah yang bisa diambil untuk memberantas pelacuran anak-anak. Yang terpenting adalah penegakan hukum. Tapi kendalanya adalah penegakaan hukum di negara-negara ASEAN sangat lemah

 

source : Radio Nederland

 

 

Provided by
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com, 

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Foundation and Editor in Chief

Dr Widodo Judarwanto

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved.

berita sex abuse di Indonesia : 95 Persen Korban Pelacuran Anak Mengidap Sakit Kelamin

95 Persen Korban Pelacuran Anak Mengidap Sakit Kelamin

Sebanyak 95 persen anak Indonesia korban pelacuran di luar negeri mengidap pelbagai jenis penyakit kelamin hingga terpapar virus HIV. Head Social Worker International Organization for Migration Anna Sakreti yang dihubungi hari Selasa (16/12) menjelaskan, temuan itu didapat dari 807 anak korban trafficking (perdagangan), usia antara 15 tahun dan 18 tahun yang didampingi Maret 2005 hingga September 2008.

”Dari jumlah itu, 21,68 persen adalah korban eksploitasi seksual. Mereka terkena pelbagai penyakit menular seksual dan diobati di RS Polri Kramat Jati lalu mendapat rawat jalan. Observasi terus dilakukan kepada mereka,” kata Anna.

Jenis penyakit menular seksual (PMS) yang dialami anak korban pelacuran adalah chlamydia (76,6%), gonorrhea (6,3%), hepatitis B (3,8%), trichomoniasis (3%), condilloma accuminata (2%), sifilis (1,8%), dan HIV positif (1,1%).

Secara berurutan, lima besar negara tujuan utama trafficking anak adalah Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, Mauritius, dan Jepang. Menurut Anna, jumlah anak korban pelacuran yang ditangani IOM merupakan fenomena gunung es. Masih banyak anak korban pelacuran yang belum terpantau.

Biasanya, anak-anak korban pelacuran yang ditangani IOM merupakan rujukan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Terminal IV Bandara Soekarno-Hatta, lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Entikong-Kalimantan Barat, Batam, Riau, Mabes Polri, dan terkadang Departemen Sosial. Begitu diserahkan, para anak korban pelacuran mendapat tes kesehatan menyeluruh.

Para korban dipulihkan psiko-sosial dan fisik di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Rata-rata mereka dirawat selama dua minggu di rumah sakit.

Selama 2005-2007 kondisi para korban masih dimonitor di daerah oleh 80 mitra LSM yang mendampingi mereka. Namun, sejak tahun 2008, program itu tidak dilanjutkan karena negara donor menghentikan bantuan. Negara donor menganggap Indonesia dianggap sudah memiliki perangkat undang-undang yang memadai.

Namun di lapangan, pendampingan terhadap anak korban pelacuran tidak berlanjut, termasuk dalam hal pemantauan kesehatan oleh pemerintah daerah. Sementara untuk daerah Jabodetabek, pemantauan kesehatan masih terus berlangsung.

Dirawat KBRI

Anna Sakreti menambahkan, kini para korban trafficking itu juga mendapat pemeriksaan kesehatan awal di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia. Anak korban trafficking juga mendapat perawatan kesehatan.

”Anak yang menjadi korban trafficking usianya bervariasi, dari 3 tahun hingga 18 tahun. Sebagian besar dari mereka dieksploitasi sebagai pembantu rumah tangga (33,58%), eksploitasi di tempat transit (23,54%), dan eksploitasi seksual (21,68%).

Daerah asal anak-anak yang menjadi korban trafficking adalah Kalimantan Barat (30,98%), Jawa Barat (16,11%), Jawa Timur (9,9%), Nusa Tenggara Barat (8,43%), dan Sumatera Utara (8,3%)

 

 

Provided by
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com, 

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Foundation and Editor in Chief

Dr Widodo Judarwanto

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved.

 

Diperkirakan 40 ribu hingga 70 ribu anak Indonesia telah menjadi korban eksploitasi seksual komersil anak

Diperkirakan 40 ribu hingga 70 ribu anak Indonesia telah menjadi korban eksploitasi seksual komersil anak (ESKA), yang sebagian besar dipaksa melalui perdagangan seks dan terbanyak di Bali.

“Data UNICEF menyebutkan pada tahun 1998 di Indonesia, sekitar 30 persen pelaku kegiatan prostitusi adalah anak berusia di bawah 18 tahun dan ada yang umur 10 tahun,” kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Bakri, di Medan, Kamis.

Dia berbicara pada “Sosialisasi Kampanye Pencegahan ESKA di Lingkungan Pariwisata” yang dihadiri berbagai kalangan.

Menurut data, katanya, kasus ESKA terbanyak di Bali, Batam, dan Nusa Tenggara Barat.

“Medan juga tergolong banyak di mana praktik ESKA pada umumnya berlangsung di pusat-pusat prostitusi dan usaha pariwisata,” katanya.

Di Medan, daerah asal ESKA dari Aceh, Batam, Pulau Jawa dengan daerah tujuan antara lain Malaysia dan Singapura.

ESKA perlu ditekan bahkan dihapuskan dan itu memerlukan keperdulian seluruh kalangan, khsusnya pelaku industri pariwisata mengingat tumbuh suburnya ESKA itu bisa membuat citra negatif pariwisata baik di dalam maupun luar negeri.

Dampak lain yang cukup merisaukan adalah banyaknya anak menderita secara sosial, ekonomi dan psikologi dan terjangkit penyakit HIV/AIDS.

Diakui sebagian besar ESKA merupakan akibat tekanan ekonomi, sulitnya memperoleh lapangan kerja serta kurangnya kesadaran dan kontrol sosial di lingkugan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Nurlisa Ginting, mengatakan, Pemprov Sumut sudah melakukan berbagai kebijakan untuk menanggulangi ESKA, antara lain dengan mengeluarkan Perda No 5 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Bagi Anak.

Lalu ada Perda No 6 tahun 2004, tentang Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak serta Peraturan Gubernur N0 24 tahun 2005 tentang Rencana Aksi Provinsi Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, sera pembentukan Gugus Tugas Provinsi Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak.

Dia mengakui, kasus ESKA terus bermunculan karena faktor yang mempengaruhi seperti kemiskinan belum dapat teratasi dan Pemprov Sumut terus berupaya menekan angka kemiskinan itu.

ESKA juga masih sulit ditekan, karena meningkatnya pekerja ke luar negeri dan latar belakang atau modus prostitusi yang berubah seperti modus baru “Biro Jodoh”.

Kondisi geografis Sumut yang merupakan daerah transit juga mempermudah timbulnya sindikat perdagangan orang

 

 

Provided by
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com, 

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Foundation and Editor in Chief

Dr Widodo Judarwanto

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved.

40.000 Anak Korban Eksploitasi Seks

 

Berbagai pihak perlu meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan hasil riset UNICEF yang menyebutkan ada sekitar 40.000 anak Indonesia menjadi korban eksploitasi seks komersial anak (ESKA). Kondisi ini perlu diwaspadai, karena ada kecenderungan terjadi peningkatan meskipun peningkatan itu tidak selalu memiliki korelasi positif dengan perkembangan industri pariwisata di negara ini


Seiring dengan berkembangnya fenomena ESKA tersebut, pihak pariwisata perlu mengantisipasi melalui serangkaian program mengingat posisi pariwisata dalam konteks ESKA adalah sebagai faktor antara. Artinya, pariwisata kerap dimanfaatkan sebagai akses yang mudah untuk melakukan tindakan kejahatan ESKA.

Pada umumnya yang melatarbelakangi terjadinya ESKA adalah faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan, pemenuhan pola gaya hidup, trauma di masa lalu (kekecewaan), kekerasan atau perkosaan dan keterpaksaan. Secara umum tiga macam kegiatan ESKA yang sering terjadi yakni prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak (trafficking). Dari ketiga macam ESKA itu yang sering terjadi adalah kasus pedofilia.

 

Praktik pedofilia di Indonesia mulai ramai dibicarakan sekitar sepuluh tahun terakhir. Pernikahan orang dewasa dengan anak di bawah usia pun sudah sejak dulu merebak dimana-mana. Meskipun kadang sulit dicari batasan apakah hal yang normal atau pedofilia. Beberapa kasus praktek kejahatan pedofilia mulai sering dilaporkan, khususnya dari aktivis LSM Perlindungan Anak. Apalagi dalam beberapa kasus yang terkuak para pelaku pedofilia itu adalah warga negara asing. Tidak heran di daerah-daerah wisata Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan asing dijadikan surga praktik pedofilia. Biasanya mereka mengelabuhi anak-anak dengan memberikan uang, pakaian, makanan atau mainan secara berlebihan. Terkadang anak diangkat sebagai salah satu anak asuhnya dengan mengatasnamakan dirinya sebagai pekerja sosial LSM.


Budaya masyarakat di daerah masih menganggap anak sebagai hak pribadi yang dapat diperlakukan sesuai kehendak anak dan orang tua.
Padahal dalam konvensi hak anak, setiap orang memiliki hak untuk menentukan keinginannya dan berhak dilindungi dari ancaman kekerasan fisik maupun kekerasan seksual sesuai dengan UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Fenomena lainnya dari kasus anak, terjadinya perdagangan manusia/anak baik antarpulau maupun antarnegara dengan menggunakan identitas dan paspor palsu. Saat ini ada modus operandi baru lagi untuk kasus traficking anak yakni keterlibatan pihak yayasan panti asuhan

 

Melihat kenyatan kehidupan sehari-hari ternyata banyak anak Indonesia yang sering dibaikan haknya demi kepentingan nista dari orang dewasa. ESKA adalah salah satu contoh memilukan terabaikannya hak anak Indonesia. Anak adalah nyawa tak berdaya yang tak mampu menolak paksaan, deraan dan trauma dari orang dewasa. Padahal anak adalah modal terbesar dan harapan masa depan bangsa ini. Kaum pendukung ESKA harus segera sadar, dengan kenistaan yang hanya memburu kenikmatan sesaat itu ternyata dapat menghancurkan anak seumur hidupnya.

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Pelecehan dan Perkosaan Meningkat di Kalsel

Sumber : Kompas, Senin, 13 Oktober 2008 14:11 WIB

BANJARMASIN, SENIN – Kasus pelecehan seksual dan perkosaan terhadap remaja di bawah umur di Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam dua bulan terakhir meningkat. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kalsel, Djumri, S.Ag, Senin, mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir, minimal ada tiga kasus pemerkosaan terhadap anak dibawah umur yang sedang dalam proses hukum. Pada beberapa bulan sebelumnya, hanya dua kasus perkosaan yang melapor ke KPAID hingga proses hukum di pengadilan. Jumlah tersebut, tambahnya, hanya sebagian kecil dari kasus pelecehan maupun perkosaan di Kalsel. Kenyataan di lapangan masih cukup banyak.

“Saat kita terjun langsung ke desa-desa, sebenarnya banyak terjadi kasus pelecehan maupun perkosaan terhadap anak-anak di bawah umur, tapi kita kesulitan untuk membantu mereka untuk proses secara hukum,” katanya. Hal tersebut terjadi karena warga atau keluarga korban memilih “menyembunyikan” kejadian pelecehan maupun pemerkosaan yang menimpa anak maupun saudaranya. Keluarga korban biasanya merasa malu, jika kejadian atau aib keluarganya terbongkar sehingga mereka memilih menerima jalan damai untuk menyelesaikan persoalan tersebut daripada memperkarakannya ke pengadilan.

Beberapa kasus perkosaan setelah diproses hukum, yang terungkap ternyata karena suka sama suka sehingga sulit untuk menjerat pelaku dengan undang-undang perlindungan anak yang hukumannya lebih berat.

Penanganan kasus perkosaan degan menggunakan KUHP, menurut dia, efek jeranya sangat kurang karena hukumannya relatif ringan. “Pelecehan seksual bukan hanya kasus perkosaan yang sama-sama dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, tetapi juga kasus sodomi,” demikian Djumri.

 

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Puluhan Anak Dijadikan TKI : Polres Semarang Ungkap Pelacuran Anak

Sumber : Kompas

Kepolisian Resor Kota Malang, Jawa Timur, menggerebek perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia di kota itu, Jumat (12/12) malam. Perusahaan itu diduga mengirim anak di bawah umur ke luar negeri. Tiga penanggung jawab perusahaan kini diperiksa.
Lokasi penampungan calon tenaga kerja Indonesia (TKI) milik perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PPJTKI) PT Mitra Makmur Jaya Abadi itu terdapat di dua lokasi, yaitu di Jalan Selat Sunda I D2-26 dan di Jalan Danau Semayang C1-E11. Kedua lokasi berada di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Dari dua lokasi itu, tiga orang ditangkap. Mereka adalah AR (ma>w 9738m

”Kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur sebagai TKI. Kami kemudian mengecek dan ternyata memang kondisinya seperti itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Malang Ajun Komisaris Kusworo Wibowo, Sabtu (13/12).
Kusworo mengatakan, perusahaan itu diduga melanggar karena memalsukan ijazah pekerja, memalsukan identitas pekerja, dan menempatkan orang dalam penampungan yang tidak layak. Calon TKI itu ditempatkan dalam ruangan 4 meter x 5 meter yang dihuni 30 orang.
Kusworo menambahkan, tiga orang yang ditangkap itu dijerat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang TKI. Mereka dianggap melanggar Pasal 103 dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.
”Dalam undang-undang tenaga kerja itu disyaratkan bahwa mereka yang akan disalurkan bekerja ke perusahaan seharusnya berusia minimal 18 tahun. Untuk bekerja di sektor nonformal, misalnya pembantu rumah tangga, minimal harus telah berusia 21 tahun,” ujar Kusworo.
40 orang
Kepada polisi AR menyebutkan, perusahaan tempatnya bekerja itu berdiri sejak April 2008. Perusahaan menyalurkan tenaga kerja ke Singapura, Hongkong, dan Malaysia. ”Rata-rata para pekerja yang kami rekrut berasal dari Malang selatan serta dari Blitar. Sampai sekarang kami telah memberangkatkan 40 orang ke luar negeri,” ujarnya.
AR menjelaskan, setiap memberangkatkan TKI ke Sigapura, perusahaannya akan mendapat uang jasa 2.400 dollar Singapura. Sementara ke Hongkong mendapat uang jasa 10.500 dollar Hongkong, dan untuk setiap pengiriman TKI ke Malaysia mendapat 3.500 ringgit.
”Perusahaan kami tidak mempekerjakan anak di bawah umur sebab rata-rata pekerja kami berusia sekitar 28 tahun,” ujar AR.
PT Mitra Makmur Jaya Abadi mengantongi izin dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, bernomor Kep 312/men/IX/2007 tentang surat izin pelaksanaan penempatan TKI di luar negeri.
Seorang pekerja di bawah umur, Rohmah (16), mengatakan tidak tahu-menahu mengenai pemalsuan ijazah atau identitasnya. ”Saya hanya datang melamar, menyerahkan fotokopi ijazah, dan dijamin akan mendapatkan kerja,” ujar gadis asal Bantur, Kabupaten Malang, tersebut.
Pelacur anak
Kasus mempekerjakan anak di bawah umur juga diungkap Kepolisian Resor (Polres) Semarang, Jawa Tengah. Tiga anak di antaranya bahkan dipekerjakan sebagai pelacur di tempat hiburan di Kabupaten Semarang.
Penyidik sedang mendalami kasus ini untuk mengetahui jaringan perdagangan anak yang diduga lintas daerah tersebut.
Kepala Polres Semarang Ajun Komisaris Besar Abdul Hafidh Yuhas, Sabtu di Ungaran, mengungkapkan, dari hasil operasi ”Bunga” selama dua hari sebelumnya, petugas mengamankan tiga anak yang diduga dipaksa menjadi pelacur, yaitu Pj (16), Ni (15), dan Dw (17).
Pj asal Grobogan dan Ni asal Kota Semarang diamankan dari tempat karaoke di Tegalpanas, Kecamatan Bergas. Sementara Dw yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat, diamankan dari tempat hiburan di Bandungan.
”Sudah ada dua tersangka yang ditahan. Kami akan berupaya mengungkap siapa agen yang mencari anak-anak. Ini sangat memprihatinkan. Mereka awalnya hanya sebagai pemandu karaoke, tetapi akhirnya dilacurkan,” kata Yuhas.
Dua tersangka yang ditahan, Narti (40) dan Lulut (35), pemilik tempat karaoke di kawasan Tegalpanas. Polisi juga masih meminta keterangan pemilik tempat hiburan di Bandungan yang mempekerjakan Dw

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

BERITA CHILDREN SEXUAL ABUSE DI INDONESIA

.

NEWS I : PERDAGANGAN ANAK

UNTUK PSK

sumber : tempo

sebutlah namanya Mawar, akan genap 16 tahun september nanti, rela menjual dirinya untuk melayani nafsu om-om karena desakan ekonomi. “Biaya pendidikan mahal, biaya hidup mahal mas, mau kerja yang bener saya masih sekolah sedangkan kebutuhan hidup gak bisa menunggu, mana pemerintah menaikan harga BBM lagi, jadi apa2 tambah mahal” demikian kilahnya.
diperkirakan, 30 persen pelacur atau pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia dijalani oleh anak-anak di bawah umur atau di bawah usia 18 tahun. Hal itu ditandaskan Deputi Perlindungan Anak pada Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan, Dr Surjadi Soeparman MPH.
Secara nasional memang tidak ada angka pasti jumlah anak di bawah umur yang dilacurkan. Sebab fenomenanya ibarat gunung es. Namun diperkirakan jumlah itu sekitar 30 persen.
Surjadi mengungkapkan, persebaran pelacur anak di bawah umur hampir merata di tiap daerah. Mereka mudah ditemukan di kantong-kantong kemiskinan. Karena itu, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk menekan jumlah anak yang dieksploitasi menjadi pelacur. Pemerintah daerah harus melindungi anak-anak, utamanya yang putus sekolah, agar tidak dieksploitasi.
Menurut dia, eksploitasi seks komersial terhadap anak (Eska) terjadi dalam tiga hal. Yakni, prostitusi, perdagangan anak (trafficking), dan pornografi. Ia mengatakan, Eska bukan hanya masalah moral, tapi masalah sosial. Anak-anak itu melacurkan diri atau dipaksa melacurkan diri karena desakan ekonomi.
Pelacuran ABG di hotel-hotel dilakukan oleh sindikat perdagangan anak.Berbeda dengan pelacuran anak-anak di jalanan, seharusnya sindikatyang melacurkan ABG di hotel-hotel dan tempat hiburan lain sudahlangsung ditindak karena kita telah memiliki Undang-UndangPerlindungan Anak. Eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) ini tidakmempunyai korelasi langsung dengan pengembangan pariwisata nasional.Undang-Undang Kepariwisataan No. 9 Th. 1990 dengan tegas menolaksegala bentuk perjudian dan perzinahan (wisata seks). Kenyataannya,jaringan kerja pariwisata banyak disalahgunakan oleh pihak-pihaktertentu untuk menyelenggarakan bisnis ESKA. Misalnya hotel-hotel,tempat hiburan malam, dan pusat relaksasi. Sebanyak 30 persenprostitusi di Indonesia dilakukan anak-anak, dan pelancong /turismerupakan salah satu pengguna bisnis ESKA yang cukup potensial.
Bagi para germo (mucikari), bisnis pelacuran ABG adalah sebuah ladang uang yang menggiurkan. Mereka umumnya tak keberatan mengeluarkan modal besar untuk investasi di bidang ini. Dalam bisnis PSK, investasiseorang germo tidak mengenal rugi. Karena, konsumen (lelaki hidungbelang) datang sendiri ke tempatnya. Bagi para germo, yang terpentingdalam bisnis ini ada “keahlian” mencari dan menyediakanpelacur-pelacur muda, cantik, bahenol, atau menarik atensi lelaki.Biasanya seorang germo memiliki rumah bordil lebih dari satu. DiJakarta, germo-germo kawasan Bongkaran misalnya, penanaman modal danmembuka usaha pelacuran tak hanya di satu tempat saja. Mengingatbisnis ini cepat menyedot keuntungan besar, mereka juga buka usaha PSKdi tempat lain. Metoda ini, selain mencari keuntungan lebih, jugamerupakan siasat untuk mensirkulasikan PSK binaannya. Hal tersebutberkenaan dengan animo pelanggan yang selalu menginginkan pelacur barudan cantik lagi muda.
Dalam budaya patriarki, seksualitas perempuan diletakkan di bawahdominasi pria, yakni demi melayani kebutuhan seksual pria dan menjadipelayan emosionalnya (Sex Money and Morality, by Thank-DamTruong).Terminologi ini nyaris sejalan dengan kedudukan para pelacurdi mata mucikari. Bagi germo, pelacur tidak memiliki hak melawan ataumembantah kata-katanya, maka apa pun perintah germo harus dilakukantanpa boleh mengajukan keberatan.
Prostitusi di Eropa praindustri misalnya, tidak hanya merupakanrespons terhadap persoalan-persoalan sosial-ekonomi wargametropolitan, tetapi juga ekspresi dari ambisi untuk memuaskan hasratlibido yang seharusnya dikendalikan seoptimal mungkin (ContemporaryStudies in Society and History, by Perry). Meningkatnya urbanisasi dikota-kota besar, instabilitas demografi, dan dislokasi ekonomiperempuan, telah membuka jalan bagi diterimanya manfaat sosial rumahbordil dalam dua hal. Yakni sebagai tempat berlindung kaum wanita yangtak memiliki tempat tinggal, sekaligus menyediakan para lelaki yangjauh dari istrinya untuk memuaskan libidonya.
Sebelum kita bergerak memberantas pelacuran, setidaknya kita harusmenelusuri lebih dulu alasan/motif mereka menjadi pelacur. Padadasarnya, motif mereka seragam: tuntutan ekonomi. Sebab itu, para PSKyang ditangkapi dan dibawa ke pusat rehabilitasi, selain diberipenyuluhan keagamaan, juga diberi pengetahuan tentang penyakitkelamin, bahkan harus diberi semacam kursus/ketrampilan sebagai bekalhidupnya setelah kembali ke masyarakat. Jika tidak, kemungkinan besarmereka menjadi PSK lagi.
Para ABG yang terperangkap dalam pelacuran, bukan hanya bisa pasrah menjalani kehidupan yang kejam, tetapi mereka juga tak jarang harusberhadapan dengan orang-orang di sekitarnya yang gila libido, liar,dan sering tidak kenal belas kasihan.
Berbeda dengan buruh anak di sektor perkebunan atau pertambangan yangkebanyakan hanya berhadapan dengan jam kerja yang panjang dan bebankerja fisik yang berat. Bagi anak-anak yang dilacurkan, merekadiharuskan oleh germo untuk melakukan apa saja yang mesti dikerjakandengan dampak psiko-logis yang merusak jiwa dan masa depannya. Tanpaperlu dikaji lebih jauh di lapangan, mempekerjakan anak-anak sebagaiPSK, jelas merupakan perbuatan melawan hukum dan salah satu bentukkejahatan terburuk.
Konvensi ILO Nomor 182 dengan jelas menyatakan, pelacuran anak-anakharus dilarang dan dihapuskan, karena benar-benar telah melanggar hakanak, di samping risiko yang harus ditanggung mereka dinilai terlaluberat.
Berita TEMPO

NEWS II : Jumlah Anak-Anak Yang

Dipasok Jadi Pelacur Di Indonesia

Tinggi

sumber : tempo

Kamis, 12 Juni 2003 11:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Di dunia sekitar 1,2 juta anak-anak terjebak dalam industri seks.
Memperingati tahun kedua Hari Menentang Pekerja Anak se-Dunia tanggal 12 Juni 2003, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melalui program Internasional Penghapusan Pekerja Untuk Anak (IPEC) meluncurkan buku “Ketika Anak Tak Bisa Lagi Memilih: Fenomena Anak Yang Dilacurkan Di Indonesia”. Peluncuran buku yang dihadiri Direkur ILO untuk Indonesia, Alan Boulton, dilakukan di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta Kamis (12/6). Selain peluncuran buku, juga dilaksanakan Debat Publik Membangun Aliansi Untuk Penghapusan Perdagangan Anak Perempuan Yang Dilacurkan.
Menurut Data ILO, sekitar 1,2 juta anak di dunia masih diperdagangkan dan terjebak dalam pekerjaan berbahaya atau kerja paksa ke eksploitasi seksual. “Perdagangan anak merupakan tindakan yang tidak bermoral dan ilegal yang memaksa anak-anak bekerja dalam kondisi memprihatinkan, dimana mereka seringkali diteror dan disiksa oleh oknum-oknum yang hidup dari memanfaatkan keluguan mereka,”kata Direktur Jenderal ILO Juan Somavia dalam siaran pers yang ditulis ILO.
Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah kebanyakan anak-anak yang diperdagangkan berakhir dengan dieksploitasinya mereka menjadi pekerja seks komersial.
Kajian cepat yang baru dilakukan ILO-IPEC pada tahun 2003 memperkirakan jumlah pekerja seks komersial di bawah 18 tahun sekitar 1.244 anak di Jakarta, Bandung 2.511, Yogyakarta 520, Surabaya 4.990, dan Semarang 1.623. Namun jumlah ini dapat menjadi beberapa kali lipat lebih besar mengingat banyaknya pekerja seks komersial bekerja di tempat-tempat tersembunyi, ilegal dan tidak terdata.
Lebih lanjut, data yang ada memperlihatkan daerah-daerah pemasok anak-anak untuk kegiatan pelacuran meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, sumatera Barat, Suamtera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Sementara daerah-daerah penerimanya terutama Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Riau, Batam, Ambon, Manado, Makasar, dan Jayapura. Beberapa diantaranya bahkan diperdagangkan di luar negeri seperti Sinagpura, Malaysia, Taiwan, dan Jepang.
Buku yang diluncurkan tersebut berisi studi-studi lapangan yang dilakukan ILO-IPEC bersama dengan Universitas Katolik Atmajaya, Yayasan Kusuma Buana, dan Universitas Airlangga. Buku ini membahas latar belakang pelacuran anak di Indonesia, prosedur jaringan dan rekrutmen, kisah-kisah anak yang dilacurkan, faktor pendorong timbulnya pelacuran anak, perlindungan hukum dan implikasinya. “Peluncuran buku ini diharapkan dapat menggugah berbagai pihak untuk lebih peduli tentang pelacuran anak dan melakukan tindakan konkrit untuk mengatasinya,”ujar Andri Yoga Utami, salah satu editor buku ini. Ia juga menambahkan perlunya perubahan paradigma bahwa dalam kasus anak yang dilacurkan, anak hanya menjadi korban dan menjadi seseorang yang tidak punya pilihan. “Berbeda dengan PSK dewasa,”katanya.
Dalam kesempatan tersebut Alan Boulton menyerahkan secara simbolis buku “Ketika Anak Tak Bisa Lagi Memilih: Fenomena Anak Yang Dilacurkan Di Indonesia” kepada wakil dari parlemen remaja, pemerintah, lembaga donor, pekerja, LSM, organisasi kewanitaan, dan polisi.
“Ini adalah sesuatu yang dilihat ILO sebagai hal yang buruk sehingga pekerja anak terutama dalam hal seksual, harus dihapuskan,”kata Alan mengenai masalah anak yang dilacurkan. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang termasuk dalam program IPEC karena kondisi pelacuran anak yang memprihatinkan.

NES III : TERBESAR SETELAH BISNIS PELACURAN, OMZET JUAL ORANG 32 TRILYUN RUPIAH
sumber : suara indonesia baru
Jakarta (SIB)Omset perdagangan orang (trafficking) di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan mencapai Rp 32 triliun.Menurut data Bareskrim Polri, ini adalah omset terbesar kedua setelah bisnis pelacuran.Besarnya omset bisnis perdagangan orang ini, kata Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, masuk akal mengingat bentuk perdagangan orang di Indonesia semakin beragam. Mulai dari buruh migran sebagai pekerja paksa, pembantu rumah tangga, pekerja anak, pelacuran paksa, eksploitasi seksual komersiil anak, pedofilia, pengantin pesanan, adopsi ilegal hingga perdagangan organ tubuh.“Kasus terakhir adalah keterlibatan oknum guru SMKN jurusan nautika perikanan laut di Bulukumba Sulsel yang merekrut siswa dengan biaya Rp 5 juta sampai Rp 6,5 juta untuk dipekerjakan di kapal nelayanâ, tutur Meutia dalam sambutan yang dibacakan Sekmen Koensatwanto pada acara sosialisasi UU No 21 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Orang (PTPO), Rabu (14/5).
Berdasarkan laporan KBRI Malaysia bulan Januari – Februari 2008, Satuan Tugas Pelayanan Perlindungan WNI berhasil menyelamatkan 6 orang Indonesia yang dilucurkan di hotel-hotel Kuala Lumpur. Selain itu laporan bulan April 2008, KBRI Malaysia menerima dua orang tenaga kerja di bawah umur minta perlindungan akibat sering dianiaya majikan.PERDAGANGAN ANAKDiakui Meutia, hingga kini belum ada data akurat jumlah perempuan dan anak yang diperdagangkan. Namun, diperkirakan 700 ribu hingga 1 juta per tahun. Bareskrim Kepolisian RI sendiri hingga 2007 mencatat 492 kasus perdagangan orang dengan melibatkan 1.015 (18%) orang dewasa dan 238 (19%) anak-anak.Sedang IOM (International Organization Migrant) hingga Januari 2008 mencatat 3.024 orang dengan rincian 5 bayi, 651 anak perempuan, 134 anak laki-laki, 2.048 perempuan dewasa dan 206 laki-laki dewasa.Indonesia diakui Meutia sudah melakukan berbagai upaya untuk memberantas perdagangan orang antara lain dengan dikeluarkannya UU PTPO dan kebijakan lainnya. Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa adanya kesadaran dan perlawanan bersama dari semua pihak. “Pengetahuan masyarakat tentang kejahatan perdagangan orang masih rendah”, tandas Meutia. (PK/c)
 
NEWS IV : Child Trafficking di Indonesia
sumber tempo
Permasalahan tentang child trafficking (perdagangan anak) di Indonesia baru muncul sekitar dua tahun yang lalu, namun demikian keberadaannya menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Permasalahan ini menjadi kian kompleks seiring dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dalam situasi ekonomi yang menghimpit, anak perempuan seringkali di pandang sebagai jalan keluar. Situasi semacam inilah yang menggiring anak-anak diperdagangkan untuk kepentingan eksploitasi seksual, seperti sebagai pelacur atau industri seks lainnya. Namun demikian persoalan perdagangan anak bukan hanya persoalan kemiskinan semata, melainkan menjadi persoalan multi aspek dan sangat kompleks.
Selain substansi permasalahan yang melibatkan banyak pihak yang bermain (korban, calo, agen, makelar, konsumen), struktur yang ada (hukum, sosial-budaya, ekonomi, dan politik) dan kultur (gaya hidup hedonis dan konsumtif) merupakan faktor-faktor yang melanggengkan terjadinya perdagangan anak. Beberapa laporan telah mengungkapkan keberadaan perdagangan anak di Indonesia, seperti laporan Farid yang mengungkap adanya sekitar 40 anak perempuan usia dibawah 18 tahun dikirim ke Taiwan dan Hong Kong setiap bulannya, diperkirakan sekitar 20% dari 5.000.000 TKI telah diperdagangkan dan dipekerjakan sebagai pelacur, terdapat 91 kasus perdagangan anak di Sumatera Utara antara tahun 1999 sampai dengan Mei 2002, diperkirakan 300-400 anak yang menjadi korban perdagangan dan eksploitasi seksual di Sumatera Utara, sementara perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan di Asia Tenggara diperkirakan lebih dari 225.000 orang.
Diyakini oleh banyak kalangan bahwa kasus perdagangan anak itu seperti gunungan es, dimana jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar dari kasus-kasus yang terungkap. Hal ini didasari dengan banyaknya tempat-tempat pelacuran yang tidak terdaftar dan tersembunyi. Dari laporan-laporan yang ada, menunjukkan bahwa perdagangan anak tidak hanya terjadi pada skala domestik tapi juga internasional. Jalur yang dipakai untuk perdagangan anak, biasanya menyatu dengan jalur yang digunakan dengan orang dewasa. Sebagaimana kasus yang melibatkan 500 wanita dari Blitar (Jawa Timur) yang di jual untuk dijadikan pelacur di Bukit Maraja (Sumatera Utara), dimana dilaporkan bahwa mereka adalah wanita dewasa, namun faktanya setengah dari mereka berusia di bawah 15 tahun dengan korban paling muda 13 tahun. Diperkirakan kebanyakan perempuan yang bekerja di pelacuran, semula adalah korban perdagangan terselubung. Sedangkan kasus-kasus perdagangan anak internasional banyak yang memanfatkan jalur buruh migran atau yang biasa di kenal dengan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), dan ditempat tujuan banyak yang dijadikan pelacur. Modus operandi memanfaatkan jalur ini semakin sulit dilacak karena banyak diantara sindikat memanfaatkan kelemahan pengawasan dan monitoring aparat terhadap jalur pengiriman TKI secara resmi. Hal ini semakin diperlancar dengan mudahnya seseorang memalsukan identitas, khususnya bagi mereka yang usianya belum cukup yaitu masih dibawah 18 tahun. Perdagangan ini didalangi oleh mafia, geng, dan orang-orang tertentu yang berprofesi memperdagangkan anak-anak dan perempuan. Perekrutan dilakukan melalui bujukan & penipuan, ancaman & paksaan, atau kekerasan serta penculikan. Sasaran mereka adalah keluarga miskin, anak-anak yang kehilangan keluarga akibat bencana dan anak-anak korban kekerasan dalam keluarga. Daerah-daerah yang selama ini menjadi pemasok anak-anak untuk pelacuran adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan daerah yang menjadi tujuan perdagangan untuk tingkat domestik adalah kota-kota besar di Indonesia seperti: Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Batam, Ambon, Manado, Makassar, dan Jayapura. Sedangkan untuk tujuan internasional meliputi Malaysia, Singapura, Brunei, Australia, Taiwan, Korea, Jepang, Arab Saudi, Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Oman dan Kuwait, Tokyo, Jerman, Belanda, Winna dan Hongkong. Indonesia, menurut laporan Departemen Negara Amerika Serikat perihal perdagangan manusia (trafficking in person), masuk pada tier (tingkat) ketiga atau peringkat terburuk dalam menangani perdagangan manusia di wilayahnya. Dimana pemerintah tidak melakukan usaha untuk memenuhi standar minimum dalam menangani perdagangan manusia. Bahkan mereka yang menempati peringkat ini pemerintahnya menolak untuk mengakui masalah perdagangan manusia diwilayah mereka. Sekalipun pemerintah Indonesia tidak sampai kepada penolakan untuk mengakui tentang keberadaan perdagangan manusia, namun hingga sekarang belum ada usaha yang signifikan untuk mensikapi permasalahan ini.
 
NEWS IV : Nestapa Anak-anak Kita

SUMBER : TEMPO, Sabtu, 13 Desember 2008 01:06 WIB

Pemerintah perlu menanggapi serius meningkatnya jumlah kasus perdagangan dan eksploitasi seksual terhadap anak. Kejahatan ini akan semakin merajalela di tengah krisis ekonomi seperti sekarang. Jika tak ada upaya memerangi secara sistematis, kelak negeri ini akan menuai generasi yang bobrok.
Lihatlah data Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Anak dan Komersial Anak dalam sebuah seminar di Jakarta belum lama ini. Setiap tahun sekitar 150 ribu anak menjadi korban eksploitasi seksual. Angka ini naik dua kali dibanding pada 1998. Berdasarkan data Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak (UNICEF), saat itu angka kekerasan seks terhadap anak sekitar 70 ribu kasus per tahun.
Jangan heran bila peringkat Indonesia dalam urusan yang tidak bisa dibanggakan ini pun meroket. Tahun lalu, kita masih berada di urutan kelima sebagai tempat favorit wisata seks anak. Kini kita “naik kelas”, menempati urutan ketiga, di bawah Brasil dan Vietnam.
Kasus pelacuran anak paling sering muncul di daerah wisata, seperti Lombok dan Bali. Di sana banyak bocah laki-laki yang terjerumus dalam dunia pelacuran dan menjadi santapan kaum pedofil. Tak sedikit pula di antara mereka yang diperdagangkan, bahkan dibawa ke negara lain. Di daerah lain, eksploitasi seksual terhadap anak juga terjadi. Banyak anak perempuan berusia kurang dari 18 tahun dipaksa melacur. Sebuah penelitian bahkan menyimpulkan, 30 persen pekerja seks yang beredar di negeri ini adalah anak-anak. Umumnya mereka terjerat dalam pelacuran karena faktor kemiskinan.
Tak ada upaya serius menyelamatkan mereka. Pemerintah pusat dan daerah kurang peduli. Ini tecermin dari tiadanya program konkret yang dibiayai anggaran negara atau daerah untuk memerangi pelacuran dan perdagangan anak. Sementara itu, polisi tidak memprioritaskan pengusutan terhadap kasus-kasus eksploitasi seksual terhadap anak. Padahal memerangi pelacuran anak sama pentingnya dengan memberantas perjudian, premanisme, dan narkoba, karena akibat kejahatan itu sama-sama buruk bagi bangsa ini.
Keuntungan materi yang didapat anak-anak dari dunia gelap itu tak sepadan dengan penderitaan mereka. Berbagai hasil penelitian menyebutkan, anak-anak yang dilacurkan gampang tertular virus mematikan HIV/AIDS. Mereka juga sering mengkonsumsi minuman keras dan dan obat-obatan terlarang, seperti ekstasi. Pelacur anak-anak sangat rentan pula mengalami tindak kekerasan, baik secara seksual, fisik, maupun nonfisik, seperti dihina dan diejek.
Pemerintah pusat, juga daerah, wajib menolong bocah-bocah malang itu. Soalnya, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jelas memberikan perlindungan maksimal bagi-bagi anak-anak, termasuk dari eksploitasi seksual. Agar beban pemerintah pusat tidak terlalu berat, daerah-daerah perlu diminta mengeluarkan anggaran yang cukup untuk menyelamatkan anak-anak dari dunia pelacuran.
 
NEWS V : 95 Persen Korban Pelacuran Anak Mengidap Sakit Kelamin

sumber : kompas, Rabu, 17 Desember 2008 01:21 WIB

Jakarta, Kompas – Sebanyak 95 persen anak Indonesia korban pelacuran di luar negeri mengidap pelbagai jenis penyakit kelamin hingga terpapar virus HIV. Head Social Worker International Organization for Migration Anna Sakreti yang dihubungi hari Selasa (16/12) menjelaskan, temuan itu didapat dari 807 anak korban trafficking (perdagangan), usia antara 15 tahun dan 18 tahun yang didampingi Maret 2005 hingga September 2008.
”Dari jumlah itu, 21,68 persen adalah korban eksploitasi seksual. Mereka terkena pelbagai penyakit menular seksual dan diobati di RS Polri Kramat Jati lalu mendapat rawat jalan. Observasi terus dilakukan kepada mereka,” kata Anna.
Jenis penyakit menular seksual (PMS) yang dialami anak korban pelacuran adalah chlamydia (76,6%), gonorrhea (6,3%), hepatitis B (3,8%), trichomoniasis (3%), condilloma accuminata (2%), sifilis (1,8%), dan HIV positif (1,1%).
Secara berurutan, lima besar negara tujuan utama trafficking anak adalah Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, Mauritius, dan Jepang. Menurut Anna, jumlah anak korban pelacuran yang ditangani IOM merupakan fenomena gunung es. Masih banyak anak korban pelacuran yang belum terpantau.
Biasanya, anak-anak korban pelacuran yang ditangani IOM merupakan rujukan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Terminal IV Bandara Soekarno-Hatta, lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Entikong-Kalimantan Barat, Batam, Riau, Mabes Polri, dan terkadang Departemen Sosial. Begitu diserahkan, para anak korban pelacuran mendapat tes kesehatan menyeluruh.
Para korban dipulihkan psiko-sosial dan fisik di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Rata-rata mereka dirawat selama dua minggu di rumah sakit.
Selama 2005-2007 kondisi para korban masih dimonitor di daerah oleh 80 mitra LSM yang mendampingi mereka. Namun, sejak tahun 2008, program itu tidak dilanjutkan karena negara donor menghentikan bantuan. Negara donor menganggap Indonesia dianggap sudah memiliki perangkat undang-undang yang memadai.
Namun di lapangan, pendampingan terhadap anak korban pelacuran tidak berlanjut, termasuk dalam hal pemantauan kesehatan oleh pemerintah daerah. Sementara untuk daerah Jabodetabek, pemantauan kesehatan masih terus berlangsung.
Dirawat KBRI
Anna Sakreti menambahkan, kini para korban trafficking itu juga mendapat pemeriksaan kesehatan awal di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia. Anak korban trafficking juga mendapat perawatan kesehatan.
”Anak yang menjadi korban trafficking usianya bervariasi, dari 3 tahun hingga 18 tahun. Sebagian besar dari mereka dieksploitasi sebagai pembantu rumah tangga (33,58%), eksploitasi di tempat transit (23,54%), dan eksploitasi seksual (21,68%).
Daerah asal anak-anak yang menjadi korban trafficking adalah Kalimantan Barat (30,98%), Jawa Barat (16,11%), Jawa Timur (9,9%), Nusa Tenggara Barat (8,43%), dan Sumatera Utara (8,3%). (Ong)
 
NEWS VI : Sindikat Pelacuran Anak Ditangkap
SUMBER : OKEZONE.COM, Rabu, 30 April 2008 – 20:24 wib

KEDIRI – Satuan Reskrim Polresta Kediri berhasil meringkus komplotan penjual anak yang dipekerjakan sebagai PSK. Selain mengamankan seorang germo, petugas berhasil menyelamatkan seorang gadis di bawah umur yang sedang melayani lelaki hidung belang.Pengungkapan sindikat ini bermula dari informasi masyarakat tentang banyaknya gadis-gadis muda yang berkeliaran di sebuah hotel di Kediri. Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui jika perempuan yang mayoritas masih di bawah umur itu bekerja melayani lelaki hidung belang yang menginap di hotel. “Berdasarkan informasi itu, kami memutuskan untuk melakukan penggerebekan di salah satu hotel ternama yang menyediakan PSK yang masih ABG. Beruntung ada salah satu tamu yang sedang memesan jasa mesum saat digeledah,” ujar KBO Reskrim Polresta Kediri Iptu Edy Herwianto, Rabu (30/4/2008).
Saat didobrak, petugas menemukan seorang ABG berinisial Int, yang masih berusia 17 tahun sedang menemani lelaki hidung belang. Mereka tidak bisa mengelak telah melakukan perbuatan mesum karena tertangkap tangan. Saat itu juga petugas menggelandang Int, warga Kel Tinalan, Kec Pesantren, Kediri dan tamunya, Suwanto (41), warga Kabupaten Nganjuk ke Mapolresta Kediri. Saat diperika, Int mengaku bekerja di bawah kendali seorang germo bernama Novita (35), warga Kecamatan Gampengrejo, Kediri. Selain dirinya, Int mengaku dipaksa melayani lelaki hidung belang bersama dua rekannya yang masih anak-anak, yakni Shl (18), warga Kel Semampir, Kec Kota, Kediri, serta Egy (18), warga Gampengrejo, Kediri.Petugas yang sudah mengantongi keberadaan Novita dengan mudah meringkusnya tanpa perlawanan. Wanita paruh baya itu mengaku terpaksa mempekerjakan para ABG dengan alasan ingin menolong kebutuhan ekonomi mereka. Novita sendiri cukup senang mengasuh dan mempekerjakan gadis di bawah umur karena lebih disukai pria hidung belang. “Saya dulu juga PSK. Karena dimintai tolong mencarikan pekerjaan, saya mengarahkan ke profesi yang pernah saya lakukan,” ujarnya saat diperiksa.
Novita mengaku sudah melakukan pekerjaan itu selama satu tahun. Untuk lelaki yang ingin menikmati tubuh ABG, perempuan yang sudah bekerja sebagai PSK sejak tahun 1995 ini mematok harga antara Rp300-400 ribu sekali kencan. Tarif tersebut menurutnya cukup sesuai dengan pelayanan yang diberikan para ABG. Hal itu terbukti dengan banyaknya peminat yang rata-rata sudah berumur dan memiliki keluarga. Hingga saat ini petugas masih mengembangkan penyelidikan kepada jaringan penjual anak ini. Sebab diduga Novita juga berprofesi sebagai penyalur ABG ke sejumlah daerah lain. Untuk itu, petugas langsung menahan Novita guna pemeriksaan berikutnya. Sementara tiga ABG yang menjadi anak buahnya langsung dikirim pulang ke rumahnya masing-masing. Akibat perbuatan tersebut, Novita dijerat dengan UU No. 21 tahun 2007 tentang perdagangan orang dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Selain itu tersangka juga dijerat dengan UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman penjara lebih dari 7 tahun. (Hari Tri Wasono/Sindo/hri)

NEWS VII : 30% Pelacur Anak di Bawah

Umur

sumber : suara merdeka Selasa, 08 Juli 2008

Diperkirakan, 30 persen pelacur atau pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia dijalani oleh anak-anak di bawah umur atau di bawah usia 18 tahun. eksploitasi seks komersial terhadap anak (Eska) terjadi dalam tiga hal. Yakni, prostitusi, perdagangan anak (trafficking), dan pornografi. Ia mengatakan, Eska bukan hanya masalah moral, tapi masalah sosial. Anak-anak itu melacurkan diri atau dipaksa melacurkan diri karena desakan ekonomi. Menurut Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LPPM-UNS Surakarta, Ir Retno Setyowati mengatakan, di Solo paling tidak terjadi 164 kasus eksploitasi seks komersial terhadap anak. Para korban tersebut merata di lima kecamatan yang diteliti. Mereka tidak hanya berasal dari Solo, tapi juga dari berbagai daerah. ( Suara Merdeka )

 

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Putus Sekolah, Jual Keperawanan Rp 170.000

Sumber : Kompas

 

SETAHUN yang lalu, Janet Kimani masih menghabiskan hari-harinya di sekolah atau bertengkar dengan adik laki-lakinya soal acara televisi. Tidak ada lain yang dipikirkan kecuali dunia anak-anak yang menyenangkan.Namun, saat ini ia menghabiskan siang harinya dengan tidur karena malam nanti ia harus menjual tubuhnya. Ya, Janet harus mengaryakan tubuh kurusnya yang baru berusia 14 tahun demi 160 shilling Kenya (setara dengan Rp 27.000) untuk satu jam layanan syahwat. “Sekarang banyak gadis seperti saya bekerja di jalanan,” kata Janet ketika ditemui di pinggir jalan salah satu sudut Eldoret, sebuah kota di bagian barat Kenya, pekan lalu.Prostitusi dan eksploitasi seksual saat ini sedang “naik daun” ketika kerusuhan berdarah mencabut nyawa lebih dari 1.000 warga Kenya akhir tahun lalu, termasuk di Eldoret. Kerusuhan itu menghancurkan perekonomian dan menyeret warga Kenya ke jurang kemiskinan. Pada saat seperti itu, seperti di tempat lain, ribuan anak dipaksa meninggalkan sekolah dan bekerja di jalanan untuk menyambung hidup. Janet salah satu di antara mereka.Tidak ada angka yang pasti berapa ratus atau ribu anak gadis terjerumus dalam prostitusi. Yang jelas, fenomena ini membuat miris para aktivis kemusiaan dan dokter karena sudah dapat dipastikan angka korban HIV/AIDS meroket.”Dengan berjalannya waktu, kami mulai merasakan dampak konflik ini, yakni HIV dan AIDS,” kata Teresa Omondi, Kepala Pusat Pemulihan Kekerasan Gender di Rumah Sakit Perempuan Nairobi.Sebuah laporan yang dipublikasikan lembaga itu menjadi semacam tanda bahaya. Disebutkan, sudah ada ketakutan bahwa prestasi mengurangi prevalensi HIV di Kenya akan musnah sia-sia. Dewan Pengawas AIDS Nasional Kenya juga menggelar studi dampak kekerasan ketika perkosaan massal dan kejahatan seksual lain terjadi selama kerusuhan itu.Sejumlah pekerja seks belia yang diwawancarai mengaku bekerja tanpa kondom karena saat ini persaingan semakin keras karena semakin banyak teman sebaya dan senasib mereka turun ke jalan.”Memang kami biasanya pakai kondom, tetapi ada kalanya tidak,” kata Milka Muthoni (17). Gadis ini sebenarnya butuh setahun lagi untuk menyelesaikan SMA, tetapi tekanan ekonomi membuat pendidikannya terhenti dan memilih menjual tubuh.”Saya tahu ini bisnis yang berisiko. Suatu kali saya pergi ke rumah sakit dengan beberapa luka dan penyakit. Tapi bagaimana lagi, saya tidak punya pilihan lain,” katanya.Milka yang tinggal di Eldoret mengaku diusir dari rumah ketika orangtuanya tahu ia menjual diri. “Tetapi sekarang saya belanja untuk mereka, jadi mereka tidak tanya-tanya lagi dari mana saya mendapat uang,” tuturnya.Pertumpahan darah itu pecah menyusul sengketa hasil pemilu pada 27 Desember 2007 dan itu menjadi saat paling kelam dalam sejarah Kenya sejak merdeka dari Inggris pada 1963. Sengketa politik itu berujung pada kerusuhan dan perkelahian antaretnis yang akhirnya mengungkap lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.Memang akhirnya pembagian kekuasaan di antara para elite menghentikan konflik ini. Presiden Mwai Kibaki tetap menduduki kursinya, sementara lawan politiknya, Raila Odinga, menjadi perdana menteri. Namun, Kenya telanjur kehilangan 1 miliar dollar karena kerusuhan ini meski sekarang pelan-pelan perekonomian pulih dan turis kembali memadati pantai-pantai di tepi Samudra Hindia. Sayangnya kerusakan nyaris mustahil dipulihkan seperti semula. Ribuan warga Kenya masih tinggal di pengungsian, setelah kabur dari desa ketika kerusuhan datang. Banyak siswa tidak kembali ke kelas atau putus sekolah karena tidak bisa lagi membayar uang sekolah yang naik mengikuti harga bahan bakar minyak.

Musai Ndunda, Ketua Asosiasi Orangtua Kenya, mengatakan, sekitar 40.000 siswa usia SMP putus sekolah Februari lalu. Itu angka terakhir yang bisa didapat. Ia yakin masih banyak yang tidak tercatat. Mungkin juga sudah ada yang kembali ke sekolah tetapi keluar lagi.Bagi Janet, kembali ke Kiambaa Primary School bukan termasuk pilihan yang bisa diambil karena gedung itu sudah rata dengan tanah setelah dibakar massa saat kerusuhan.Dia sempat sebulan tinggal di kamp penampungan di Eldoret. Sampai kemudian ia mengamati temannya, Nyambura, selalu punya makanan dan pakaian bagus meski sama-sama tinggal di kamp. Suatu hari, Nyambura mengakui ia menjual tubuhnya dan mengajak Janet mengunjungi tempat kerjanya, sebuah pub.”Sebenarnya saya enggan, tapi Nyambura meyakinkan saya bahwa laki-laki itu akan membayar. Saya belum pernah minum alkohol, tetapi saya sangat butuh uang, jadi saya ikut saja,” tutur Janet mengenang hari pertamanya masuk dalam kehidupan malam.Malam itu keperawanannya dihargai 1.000 shilling atau sekitar Rp 170.000. Dia membawakan makanan untuk kedua orangtua dan enam saudaranya. Saat itu ia mengaku punya pekerjaan di kota, tetapi tidak memberi tahu pekerjaan apa dan mereka pun juga tidak bertanya.”Orangtua saya sudah miskin, bahkan sebelum kerusuhan.

Mereka tidak bisa membeli bahan-bahan kebutuhan. Sekarang, dengan saya di jalanan, kalau sedang untung ya bisa bawa pulang 2.000 shilling. Itu setelah tidur dengan lima atau enam pria,” katanya.Janet jelas tidak punya harapan kembali ke sekolah. Orangtuanya tidak punya pekerjaan sehingga penghasilan Janet sangat penting untuk menyambung hidup keluarganya. “Memang pekerjaan ini awalnya sangat menyiksa. Tidur dengan pria-pria itu sangat mengerikan karena kadang-kadang mereka juga kasar dan menyakiti saya. Tapi kelamaan saya terbiasa,” katanya.Prostitusi memang sudah lama menjadi persoalan di Kenya, khususnya di kawasan wisata. Agnetta Mirikau, aktivis perlindungan anak di UNICEF Kenya, mengatakan, peningkatan jumlah pelacur anak mudah terlihat di kota-kota yang paling parah tingkat kerusuhannya, seperti Eldoret, Naivasha, dan Nakuru. Eldoret merupakan lokasi kerusuhan paling keras dan berdarah seusai pemilu. Di kota ini sebuah gereja dibakar, padahal gedung itu dipenuhi orang yang sedang mencari perlindungan. Puluhan orang tewas dalam insiden itu.”Orang-orang dewasa sekarang mengumpankan anak-anaknya karena mereka tidak punya penghasilan apa pun. Anak-anak putus sekolah dan mereka ingin membantu menghasilkan sesuatu untuk orangtuanya. Jika tidak ada makanan dan mereka merasa bertanggung jawab atas nasib saudara-saudaranya, maka mereka akan keluar rumah dan mencari uang untuk beli makanan,” kata Mirikau.Wali Kota Eldoret Sammy Rutto baru-baru ini memerintahkan polisi memberantas prostitusi setelah mendengar ada gadis 12 tahun terlihat nongkrong di bar. “Ini bisnis yang tidak bisa kami biarkan. Mereka harus mencari alternatif lain untuk hidup. Pelacuran pasti akan memperluas penyebaran AIDS, dan banyak orangtua kehilangan anak-anaknya,” kata Sammy.Pertanyaannya, apakah alternatif itu ada, atau bisakah pejabat seperti Sammy Rutto dan politisi yang berebut kekuasaan itu menyediakan pekerjaan lain yang tidak berbahaya.

 

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

 

FENOMENA ANAK-ANAK YANG DILACURKAN DI SUMATERA UTARA

Anak-anak yang dilacurkan telah cukup menggejala di kota-kota besar diIndonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan bahkan kota-kotayang kecil seperti Yogyakarta dan Surakarta. Masalah ini cukupmemprihatinkan karena korbannya adalah penduduk yang dari sudut kematangan seksual belum dewasa. Mereka belum cukup mengetahui risiko dari hubungan seksual sehingga kehamilan dini dan penularan PMS (Penyakit Menular Seksual)dengan seluruh implikasinya dapat terjadi pada mereka. Prakktik itu jugadapat mempengaruhi perkembangan pribadi dan masa depan merekaMasalah anak-anak yang dilacurkan merupakan masalah yang sampai hari ini belum terpecahkan. Pemerintah menganggap masalah ini adalah masalah kecil yang tidak begitu menganggu stabilitas dan atmosfer politik di Indonesia.Belum ada pemikiran pemerintah untuk menyusun program mengentaskan masalahini. Pemerintah masih terlalu sibuk menyelesaikan konflik antar kepentinganyang sedang bermain. Sayangnya anak-anak terus saja dikirim ke ladang-ladang pelacuran apakah itu lokalisasi terselubung, hotel, karaoke dan sebagainya.Artinya korban demi korban terus saja berjatuhan sementara respon atasmasalah ini masih sedikit yang memberikannya. Dalam masalah anak-anak yangdilacurkan ini banyak pihak yang terlibat dan menerima manfaat atasberlangsungnya bisnis ilegal ini. Namun bagi anak, hal ini sangat merugikan khususnya bagi masa depannya.Anak-anak dijadikan pelacur lebih dikarenakan oleh permintaan pasar yangmeningkat. Tingginya permintaan terhadap anak-anak terutama yang berusia14-17 tahun karena mereka dianggap “suci” dari berbagai virus dan penyakit.Seorang mucikari yang berhasil menyediakan seorang gadis muda yang masih perawan maka dia bisa meraup untung jutaan rupiah untuk satu kali transaksi dengan seorang pelanggan. Dengan alasan-alasan ini pula maka mucikari dengansegala upaya berusaha mendapat “rumput muda”. Upaya ini biasanya merekalakukan secara terorganisir, dengan jalur-jalur yang tertutup-rapi, danhanya orang-orang tertentu saja yang bisa memasukinya.Anak-anak yang di bawah umur lebih mudah dibujuk dan diming-imingikesenangan dan pekerjaan, sehingga dengan gampang dijual ke lokasi-lokasiyang memerlukannya. Para pembujuk ini dalam istilah sindikat disebut”kolektor” beroperasi di pusat-pusat keramaian seperti mal, plaza bahkansampai ke desa-desa. “Kolektor” ini biasanya sudah terlatih mengenali calon-calon mangsa yang gampang tergiur dengan tawaran sejumlah uang ataupekerjaan. “Kolektor” ini sendiri sebenarnya dipekerjakan oleh bos sindikat(mucikari/germo).Pada Februari 1999 penulis pernah melakukan investigasi terhadap para”kolektor” di beberapa plaza dan mal di Medan. Hasilnya para calon korban,yang biasa mereka sebut ABG (Anak Baru Gede) yang umumnya berasal daridaerah pinggiran kota dan memiliki latar belakang keluarga menengah kebawah. Mereka ini sangat mudah diajak ke tempat-tempat mewah dan jarang menolak ajakan tesebut. Setelah calon korban menerima ajakan tersebut”kolektor” membawanya ke tempat mucikari. Di sini “kolektor ” akan mendapattips yang besarnya sekitar Rp.100.000-Rp.200.000, tergantung pada kecantikandan keperawanan si korban.Dan ternyata begitu banyak dijumpai kasus anak-anak yang dilacurkan diSumatera Utara. Anak-anak ini biasanya dikirim ke lokalisasi pelacuran diPulau Sicanang, Belawan (Medan) dan Bandar Baru (Deli Serdang), Warung Bebek(Deli Serdang), hotel-hotel kecil di Medan bahkan sampai ke Pulau Batam(Riau).Di Sumatera Utara faktor yang lebih banyak mempengaruhi munculnya anak-anakyang dilacurkan lebih dominan disebabkan oleh faktor penipuan oleh parasindikat penjual wanita yang berkedok sebagai perantara pencari kerja. Inibisa dibuktikan dengan berbagai dokumen pemberitaan media massa yangmengungkap pengalaman anak-anak yang berhasil kabur dari “ladang pelacuran”.

Angka kejadian
Laporan investigasi wartawan Fokus (Fokus, 9-15 Desember1998) di lokalisasiBandar Baru, Deli Serdang, Sumatera Utara menemukan ada sekitar 200-300 perempuan dipekerjakan dalam bisnis seks dan lebih dari setengahnya adalah anak-anak berusia berkisar 15-17 tahun. Seorang informan, sebut saja Nur (16tahun) menyatakan bahwa dia dijanjikan akan dipekerjakan di Restoran PadangBulan namun kenyataannya dia dijual ke Barak Naga, Bandar Baru. Sementarauntuk kabur sangat sulit, karena ketatnya penjagaan.Jumlah anak-anak yang ditemukan oleh investigasi wartawan tersebut bukanlahuntuk membesar-besarkan masalah. Fakta adanya anak-anak yang dilacurkan inidiakui oleh Dinas Sosial Propinsi Sumatera Utara. Tahun 1998 ketika instansi ini melakukan pendataan terhadap pelacur di Sumatera Utara mereka menemukananak-anak berusia di bawah 18 tahun sebanyak 281 orang “bekerja” ditigalokalisasi yaitu Bandar Baru (Deli Serdang), Bukit Maraja (P. Siantar), danWarung Bebek (Deli Serdang). Jumlah ini belum termasuk yang dijumpai didiskotik, dan pub yang mencapai 500 orang. Dinas Sosial propinsi SumateraUtara mengakui masih banyak anak-anak yang dilacurkan yang belum terdata,atau cenderung memalsukan umurnya (Dinas Sosial Propinsi Sumatera Utara,1999)Anak-anak yang dilacurkan ini masih harus mengalami kekerasan. Kasus penyekapan dan penjualan 600 anak di bawah umur untuk dijadikan pelacur anakdi Dumai, Riau yang terjadi pada bulan Maret 2000 lalu membuktikan faktaini. Sebagian besar anak-anak yang disekap ini berasal dari Medan.Terangkatnya kasus ini disebabkan oleh tiga orang dari mereka berhasil diambil oleh keluarganya dengan membayar sejumlah uang untuk kebebasanmereka, dan selanjutnya keluarga salah seorang dari mereka ini mengadukankasus ini ke polisi untuk dapat diusut lebih lanjut (Kompas, 26 Maret 2000).

Kasus yang hampir sama terjadi kembali pada 25 Maret 2000. Dua orang gadismuda berusia 15 tahun disekap dan nyaris terjual ke tempat pelacuran dipulau Batam. Penyekapan itu sendiri berlangsung di Medan dan kedua gadis tersebut berasal Tembung, pinggiran Medan. Untungnya keluarga korbanmengetahui anak gadisnya disekap dan bersama kerabatnya yang polisi membebaskan kedua anak gadisnya. (Radar Medan, 27 Maret 2000).Kasus yang menarik untuk diungkapkan kasus yang dialami oleh Fitriani (16tahun) penduduk Jalan Letda Sujono Medan. Fitri gadis manis yang berkulitputih menceritakan pengalamannya ketika diajak ke Bandar Baru, kabupatenDeli Serdang untuk bekerja di rumah makan dengan gaji besar. Dia tidak tahukalau Bandar Baru itu adalah lokalisasi pelacuran di Sumatera Utara.Setelah permisi sama orang tuanya, Fitri pergi bersama tiga orang temannyayaitu Afrida (15 tahun), Kiki (16 tahun), Florida (16 tahun). Sesampainya diBandar Baru Fitri sudah mulai curiga karena dia diinapkan di sebuah rumahyang didalamnya telah menunggu beberapa perempuan muda. Fitri ingin pulang tetapi tidak bisa.Malam itu dia harus merelakan keperawannnya kepada pria turunan dan dibawake Bungalow Kumala Bandar Baru. Selama satu bulan Fitri dipaksa melayani setiap tamu yang mem-booking-nya. Dan selama satu bulan itu juga diaberhasil mengumpulkan uang sejumlah Rp. 2 juta. Terbongkarnya kasus ini, setelah Florida (teman Fitri) hamil yang inginmakan martabak di Medan. Oleh mucikari Florida diizinkan turun ke Medan.Namun sampai di Medan dia mengadukan kasus ini ke orang tuanya dan kekepolisian.Orang tua Florida meminta agar germo/mucikari dihukum “Mereka harus dihukumberat dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku karena sudah merusakmasa depan anak saya”, katanya.

Nasib anak-anak yang dilacurkan ini sangat tidak menyenangkan, ini terlihatdari kasus yang ada di Lokalisasi Bandar Baru, Deli Serdang. Anak-anak yang menolak perintah germo untuk melayani kebuasan nafsu para hidung belang yangdatang, maka dengan garang germo akan menyiksa mereka malah ada yang sampai gegar otak karena kepalanya dibenturkan ke tembok dan jadi gila ( WanitaIndonesia, Februari 1998).

Studi Pelacuran Anak
Di Indonesia sendiri studi yang telah dilakukan tentang anak-anak yangdilacurkan sangat minim sekali. Beberapa penelitian yang berhasil mengungkap masalah ini misalnya penelitian yang dilakukan oleh Irwanto dkk (1998) diDesa Bongas. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Koentjoro(1989), Hull dkk (1997) dan Wibowo dkk (1989). Dari ketiga penelitian inidapat disimpulkan bahwa munculnya anak-anak yang dilacurkan lebih banyakdisebabkan oleh motif ekonomi dan budaya. Hull dkk (1997) menambahkan faktorpendidikan yang rendah, ketidaktaatan terhadap agama Islam. Malah diIndramayu orang tua ikut serta dalam semua proses ritual, pendidikan dan persiapan seorang anak menjadi pelacur. Orang tualah yang memberikan persiapan spriritual-mistis, menghubungkan dengan seorang germo, danmemastikan bahwa penghasilan anaknya tidak untuk dihambur-hamburkan. Merekapula yang selalu mendoakan dan meramu sajian agar anak-anaknya memperoleh tamu yang banyak.

Bagong Suyanto (1999) juga pernah melakukan penelitian tentang anak-anakyang dilacurkan di Surabaya. Dari penelitiannya ini ditemukan bahwa penyebabmasuknya anak-anak dalam pentas pelacuran lebih disebabkan karena faktorpenipuan, pemaksaan dan ketidakmengertian mereka, bukan karena kesukarelaan mereka untuk memilih pekerjaan sebagai pelacur. Mereka tidak pernahberkeinginan atau bercita-cita untuk menjadi pelacur.Penelitian lain yang perlu diungkapkan adalah apa yang dilakukan olehMuhammad Farid (1999). Walaupun sebenarnya penelitian ini hanyalah sebataspada kajian pustaka semata. Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa kasusanak-anak yang dilacurkan dari tahun ke tahun menunjukkan gejala peningkatan. Fakta-fakta dilapangan yang membenarkan argumentasi ini cukup signifikan. Dia mencontohkan dengan mengutip dari Majalah Gatra tanggal 7Oktober 1995 ditemukan bahwa ada sekitar 250 anak dari Blitar (Jawa Timur) diperdagangkan ke kompleks lokalisasi di Bukit Maraja, Sumatera Utara. Tahunberikutnya jumlah ini menjadi sekitar 300 orang. Dalam penelitian inidiungkapkan beberapa kota yang sering sekali menjadi lokasi pelacuran anakantara lain adalah Denpasar, Lombok, Pontianak, Medan, dan Batam. Daerah ini selain merupakan daerah tujuan wisata asing (Denpasar dan Lombok) juga secara geografis berdekatan dengan negara tetangga (Pontianak, Medan danBatam).Penelitian Farid ini menjadi indikasi yang cukup kuat untuk memberikanargumentasi bahwa kasus anak-anak yang dilacurkan menjadi kecenderungan yangperlu segera diwaspadai dan disikapi. Bila tidak, maka Indonesia akanmenjadi jalur perdagangan anak internasional. Bila dikaitkan denganpenelitian sebelumnya maka ada tiga titik perhatian yang berbeda.
Irwanto(1998), Hull (1997), Wibowo (1989) dan Koentjoro (1989) melihat padaaspek-aspek sosial budaya yang mempengaruhi munculnya pelacuran anak maka Bagong (1999) cenderung menitikberatkan pada faktor-faktor yang menyebabkananak-anak direkrut dan kemudian dilacurkan. Disini titik perhatian sudahmulai terfokus pada perdagangan anak walaupun Bagong sendiri tidakmenyebutkan studinya sebagai studi trafficking. Sementara itu Farid sudah memfokuskan pada aspek trafficking atau perdagangan anak, walaupun studi inisendiri sangat lemah dengan informasi-informasi kwantitatif.

Penelitian-penelitian yang disebutkan di atas lebih mengarah pada penelitian eksplorasi atau pendalaman akan fenomena masalah anak-anak yang dilacurkanatau perdagangan anak. Penelitian tersebut belum diarahkan pada studikebijakan yang mengungkapkan respon pemerintah dalam melihat fenomena perdagangan anak dan upaya-upaya yang sudah ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi atau mengurangi meluasnya permasalahan perdagangan anak.

Kekerasan dan Implikasinya
Anak-anak yang dilacurkan dimanapun berada baik yang berada di lokalisasimaupun di non lokalisasi acap kali menerima perlakuan-perlakuan yang tidakwajar. Perlakuan tidak wajar tersebut pada umumnya diberikan oleh orangdewasa. Hal ini terjadi akibat lemahnya posisi anak yang sering dianggap objek. Perlakuan yang tidak wajar tersebut biasanya terjadi dalam bentukkekerasan maupun pelecehan seksual.Bahwa kekerasan terhadap anak bertolak dari timpangnya hubungan sosial ataurelasi sosial antara anak-anak dan orang dewasa, yang berakar pada budaya.

Yang paling dominan adalah cara pandang orang dewasa terhadap anak, terutamasebagai objek yang lemah, Mereka — anak-anak— adalah orang-orang lemahyang bisa diperlakukan seenaknya.Umumnya korban kekerasan seksual terhadap anak yang dilacurkan ini tidakhanya akan menderita akibat trauma fisik (misalnya cidera tubuh), namunterutama sekali akan menderita stres mental yang amat berat bahkan seumurhidup, yaitu apa yang dinamakan stres pasca trauma, sebab pada dasarnya kekerasan seksual itu lebih merupakan trauma psikis daripada trauma fisik.Bila dikaitkan dengan anak-anak yang dilacurkan maka penyebab kekerasanadalah status sosial, sistem kerja yang unik yang tidak tergantung pada ketentuan yang umum tetapi tergantung pada germo dan perilaku pelanggan-pelanggan yang tidak waras. Bahkan dikarenakan mereka termasuk jenis kerja yang tidak diakui pemerintah, maka segala kekerasan yang mereka alami dianggap sebagai resiko yang hanya ditanggung oleh mereka sebagaikonsekwensi dari hasil yang mereka lakukan.Selain trauma psikis sebagai dampak kekerasan seksual, juga peluangtertularnya HIV/AIDS sangat besar bagi anak-anak yang dilacurkan.

Mereka umumnya kurang paham akan arti pentingnya seks sehat. Para pelangganpunmerasa yakin si anak adalah suci dari berbagai penyakit, dan tidak merasapenting untuk menggunakan kondom. Padahal peluang tertularnya HIV/AIDSterhadap anak-anak yang dilacurkan cukup besar, hal ini disebabkan karenamereka berada dalam posisi yang lemah, dan pasrah menerima keadaan yang tidak memihak ini.Sampai saat ini memang belum diketahui data mengenai jumlah anak-anak yangdilacurkan tertular HIV/AIDS namun bila melihat resiko yang akan dideritanyamaka cukup beralasan kalau keberadaan mereka dalam bisnis seks segeradihapuskan.

Bila dibandingkan dengan negara-negara barat, orang dewasa yangmelakukan hubungan seks dengan anak di bawah umur (meskipun atas dasar sukasama suka) dianggap melakukan tindak kriminal (melanggar hukum) dan dapatdijatuhi hukuman berat.Indonesia tidak mengenal hukum seperti ini, karenanya praktik seperti inidapat berlangsung secara leluasa, dan sejauh ini belum terdengar tindakanbagi hukum para pelakunya. Perlindungan hukum bagi anak-anak yang dilacurkand i Indonesia juga sangat lemah. Indonesia hanya memiliki KUHP warisanBelanda. Peraturan lainnya yang bisa menjerat para sindikat tidak ada sama sekali. KUHP sendiri dalam memberikan sanksi pidana kepada para pelaku atau sindikat anak-anak yang dilacurkan sangat lemah dan tidak berpihak padakorban. KUHP juga sudah sangat ketinggalan dalam memberikan batasan umuranak, yaitu di bawah 15 tahun, sementara kecenderungan internasional adalahdi bawah 18 tahun.

Disamping itu lemahnya penegakan hukum terhadap penjualan anak -anak dalamsindikat bisnis pelacuran lebih disebabkan adanya faktor kolusi antaramucikari/germo dengan aparat keamanan. Kolusi ini sudah berlangsung cukuplama sehingga untuk dapat menanggulanginya diperlukan kerjasama denganberbagai pihak untuk melakukan tekanan terhadap pemerintah. Dukungan internasional dalam rangka menekan pemerintah Indonesia sangat efektif dalammemberantas sindikat penjualan anak-anak dalam bisnis pelacuran.

 

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.