KARAKTERISTIK KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

abuse-5.jpg image by beautifulwonder3

Kekerasan seksual pada anak sering muncul dalam berbagai kondisi dan lingkup sosial.

  • Kekerasan seksual dalam keluarga (Intrafamilial abuse). Mencakup kekerasan seksual yang dilakukan dalam keluarga inti atau majemuk, dan dapat melibatkan teman dari anggota keluarga, atau orang yang tinggal bersama dengan keluarga tersebut, atau kenalan dekat dengan sepengetahuan keluarga. Kekerasan pada anak adopsi ataupun anak tiri juga termasuk dalam lingukup ini.
  • Kekerasan seksual di luar keluarga (Extrafamilial abuse). Mencakup kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang kenal dengan anak tersebut dari berbagai sumber, seperti tetangga, teman, orangtua dari teman sekolah.
  • Ritualistic abuse
  • Institutional abuse.Kekerasan seksual dalam lingkup institusi tertentu seperti sekolah, tempat penitipan anak, kamp berlibur, seperti kegiatan pramuka, dan organisasi lainnya.

 

  • Kekerasan seksual oleh orang yang tidak dikenal (Street or stranger abuse).Penyerangan pada anak-anak di tempat-tempat umum.

 

Intrafamilial Abuse

Pelecehan seksual merupakan suatu kegiatan yang disembunyikan oleh pelakunya dan keluarga merupakan tempat yang paling aman untuk menyembunyikan hal ini dari masyarakat. Pelaku memiliki kesempatan yang besar untuk mengontrol dan memanipulasi sang anak untuk tidak membuka mulut.

                Dikatakan bahwa dua pertiga dari anak-anak yang mengalami pelecehan seksual, pelakunya adalah keluarga mereka sendiri. Ini tidak hanya meliputi orangtua kandung, namun juga orangtua angkat, kekasih dari orangtua mereka, teman orangtua yang tinggal bersama, maupun kakek, paman, bibi, sepupu, saudara laki-laki dan perempuan.

                Pelecehan seksual di dalam keluarga lebih cenderung untuk menjadi kronis, dapat bermula segera setelah kelahiran dari sang anak dan berlanjut di masa kecil anak tersebut. Bagi beberapa anak, pelecehan ini berlanjut hingga masa dewasa; seorang perempuan dapat membesarkan anak dari ayahnya sendiri, dan turut berpartisipasi dalam kelanjutan pelecehan di generasi berikutnya. Pelecehan seksual dalam keluarga, oleh sebab itu, lebih merupakan pola hubungan di mana seluruh anggota keluarga ikut berpartisipasi dan batas-batas antar generasi sudah menjadi tidak ada. Para dokter spesialis anak yang bekerja pada area ini harus waspada terhadap adanya siklus pola pelecehan antar generasi.

                Ketika seorang nenek menyatakan bahwa anaknya tidak bersalah, hal ini mungkin dilakukannya untuk melindungi anaknya, namun juga berarti bahwa mungkin sang nenek sedang memikirkan seluruh keluarganya, termasuk dirinya sendiri, suaminya, sang paman dan bibi, keponakan, yang mungkin merasa terancam dengan terungkapnya satu pelecehan seksual pada salah satu anak di dalam keluarga. Untuk alasan inilah pelecehan seksual dalam keluarga menjadi lebih sulit untuk diusut dan sering terjadi bahwa penyelidikan kasus pelecehan seksual dalam keluarga berhubungan dengan anggota keluarga lainnya. Oliver Whiltshire (1983) melakukan riset yang menunjukkan bahwa pelecehan dan penelantaran anak di dalam keluarga saling berhubungan dan morbiditas serta mortalitas anak ditemukan pada keluarga tersebut.

Extrafamilial abuse

Banyak survei dalam komunitas yang menunjukkan bahwa kontak tubuh pada lingkup pelecehan seksual di luar keluarga lebih sering terjadi daripada di dalam lingkup keluarga. Pelecehan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

                Batasan antara lingkup intrafamilial dan ekstrafamilial kadang menjadi kabur dan pengenalan dari salah satunya sering mengantar pada yang lainnya. Seorang anak laki-laki yang mengalami pelecehan seksual di rumah oleh ayahnya, mungkin secara tidak sadar membiarkan dirinya berada dalam situasi yang berbahaya bersama dengan laki-laki lain, yang dapat mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang sama padanya jauh dari keluarganya.

                Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga, pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun relasi dengan anak tersebut,  kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan, sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak di rumahnya. Sang anak biasanya tetap diam karena bila hal tersebut diketahui mereka takut  akan memicu kemarah dari orangtua mereka. Selain itu, beberapa orangtua kadang kurang peduli tentang di mana dan dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktunya. Anak-anak yang sering bolos sekolah cenderung rentan untuk mengalami kejadian ini dan harus diwaspadai.

                Anak-anak dengan riwayat pelecehan seksual mengalami pengalaman yang buruk dan menderita secara emosional maupun kesulitan tingkah laku. Anak-anak ini membutuhkan bantuan setelah pelecehan seksual tersebut dideteksi dan dihentikan.

Keluarga dengan anak yang mengalami pelecehan seksual

Beberapa karakteristik dari keluarga dengan anak yang mengalami pelecehan seksual telah digambarkan. Keluarga tersebut, baik pada kasus incest maupun non-incest, memiliki karakteristik yang kohesif, tidak terorganisir dengan baik, dan secara umum memiliki disfungsional bila dibandingkan dengan keluarga lain yang tidak terdapat pelecehan seksual.

                Konteks keluarga yang berhubungan dengan pelecehan seksual ini antara lain adalah dewasa yang juga pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-kanaknya, termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan atau penggunaan alkohol, ketiadaan orangtua, hubungan yang tidak baik dengan orangtua, adanya pelecehan seksual pada salah satu anggota keluarga, kurangnya pengertian dalam keluarga, perceraian atau orangtua berpisah, dan pemindahan hak perawatan anak (Childhood Matters 1996). Dari kesemuanya ini, kekerasan dalam rumah tangga dan penyalahgunaan alkohol adalah yang paling sering dilaporkan.

Anak yang mengalami pelecehan seksual

Pandangan tradisional mengenai anak yang biasanya mengalami kekerasan seksual tersebut menunjukkan adanya factor-faktor tertentu yang memberi kontribusi untuk terjadinya pelecehan seksual, seperti anak yang ditelantarkan. Dihipotesiskan bahwa prilaku anak dan penampilannya dapat memicu ketertarikan dari orang dewasa. Dalam hal pelecehan seksual, sebuah mitos menyebutkan bahwa hanya anak-anak tertentu dengan umur tertentu yang mengalami pelecehan, sesuai dengan seksualitas orang dewasa yang “mini”. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang memasuki puber dapat memberi stimulus tertentu pada ayah angkatnya, yang menyebabkan kejadian pelecehan seksual menjadi sulit dihindarkan.

                Anak-anak pada semua umur dapat mengalami pelecehan seksual, termasuk pada bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. Baik menurut sample klinik maupun survei komunitas, jumlah anak perempuan yang mengalami pelecehan biasanya melebihi jumlah anak laki-laki. Hobbs dan Wynne (1987) menemukan perbandingan rasio antara anak perempuan dan laki-laki adalah 2:1, sedangkan dalam suatu studi di Irlandia Utara rasionya adalah 4.4: 1. Anak laki-laki lebih cenderung kurang dicurigai, dilaporkan atau pun dipercaya (Rogers & Terry 1984). Dengan memperhatikan hal ini, diperkirakan bahwa jumlah pelecehan seksual pada anak laki-laki dan perempuan sebenarnya mungkin sama (Kempe&Kempe 1984, Hanks et al 1988).

                Usia pada saat didiagnosis terjadi pelecehan seksual tidak memberikan keterangan tentang onset terjadi pelecehan pertama kali, namun rata-rata usia terdiagnosis adalah sekitar 7 tahun, dengan puncaknya antara 2-7 tahun. Usia saat terdiagnosis lebih bergantung pada kemudahan diagnosis, dimana terdapat kemauan untuk mengungkapkan kejadian, dan sering ditemukannya temuan fisik yang membantu penegakan diagnosis. Anak-anak yang lebih besar, yang telah belajar dari konsekuensi bila tidak dapat menyimpan rahasia, lebih cenderung dapat menutupi kejadian pelecehan tersebut, dan lebih memiliki rasa takut terhadap ancaman yang diberikan bahwa mereka akan menderita bila mereka memberitahukan kejadian tersebut.

                Dibandingkan dengan faktor dari sang anak yang mempengaruhi terjadinya suatu pelecehan seksual, adalah perilaku yang tidak membedakan korban dari si pelaku yang lebih penting.

Riwayat pengalaman pelecehan seksual 

Pelecehan yang berulang sering ditemui pada lebih dari setengan kasus pelecehan seksual di komunitas dan terdapat pada 75% kasus yang ditemukan di klinik.

Tindakan yang berkaitan dengan pelecehan seksual 

Kontak

  1. Sentuhan, memainkan atau kontak oral dengan dada atau genital.
  2. Memasukkan jari atau benda ke dalam vulva atau anus

–         Masturbasi oleh orang dewasa didepan anak kecil

–         Ejakulasi kepada anak, baik dari orang dewasa ke anak maupun dari anak ke dewasa

–         Hubungan seks baik vaginal, anal atau oral, dilakukan maupun direncanakan pada berbagai tingkatan.

  1. Pemerkosaan dilakukan dengan penetrasi penis ke dalam vagina
  2. Kontak genital lainnya, hubungan seks pada daerah kruris dimana penis diletakkan diantara kaki. Atau kontak genital dengan bagian tubuh lainnya dari anak seperti penis digosokkan pada paha.
  3. Prostitusi, semua perlakuan diatas yang melibatkan pertukaran uang, hadiah, bantuan pada anak sewaan.

Non-kontak

  1. Eksibisionisme
  2. Pornografi dalam berbagai bentuk : foto hubungan seksual atau foto anatomi tubuh
  3. Memperlihatkan foto, film, video porno
  4. Cerita-cerita erotis
  5. Eksploitasi seksual lainnya
  6. aktivitas sadis
  7. Membakar daerah pantat atau genital anak.

Penetrasi vaginal, oral, anal yang dilakukan atau direncanakan muncul pada 20-49 % kasus non klinis dan pada lebih dari 60 % sampel forensik.

Sampai saat ini belum bisa diprediksi dampak dari berbagai tindakan tersebut terhadap anak. Karena responnya sangat individual. Yang dikategorikan paling serius adalah hubungan seksual sedangkan eksibisionisme dianggap kurang serius

 

Provided by
FIGHT CHILD SEXUAL ABUSE AND PEDOPHILIA

Yudhasmara Foundation

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

https://pedophiliasexabuse.wordpress.com/

 

Foundation and Editor in Chief

Dr Widodo Judarwanto

 

Copyright © 2009, Fight Child Sexual Abuse and Pedophilia  Network  Information Education Network. All rights reserved.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: